DPP IKJR Gelar Budaya 1 Muharam 1448 Hijriah:Sambung Rasa Nguri-nguri Budaya Luhur

PEKANBARU,RIAURILIS.COM- Menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Selasa Wage 1 Suro 1960 Ba,

DPP Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR) mengadakan kegiatan Gelar Budaya, di sekretariat DPP IKJR Gedung Amarta Puri Jalan Sukarno Hatta, Kav. 169, Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamayan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Senin (15/6/2026) malam.

 

Dalam pelaksanaannya kegiatan ini diisi dengan acara pengajian, doa akhir tahun, doa awal tahun. Kemudian ada juga pagelaran kesenian kuda lumping yang dihadiri oleh 26 Perwakilan Paguyuban, 19 Paguyuban Jaranan (kuda lumping).

 

Ketua Panitia Gelar Budaya DPP Ikatan Keluarga Jawa Riau Gigih Krisnanto didampingi oleh Ari Setiyadi sebagai Sekretaris dalam laporannya menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan agenda DPP IKJR dan bersifat internal.

 

Gelar Budaya dilaksanakan secara gotong royong antar anggota yang menunjukan kebersamaan dan kuatnya rasa persaudaraan sebagai sesama saudara perantau yang tergabung dalam rumah besar IKJR.

 

“Kami panitia Gelar Budaya menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1448 H melaporkan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh 26 Perwakilan Paguyuban Jawa yang tergabung dalam IKJR. Diramaikan juga engan penampilan 2 paguyuban Kuda Lumping dari 19 Paguyuban Kuda Lumping yang tergabung di IKJR," ungkapnya

 

Dijelaskan Gigih, dalam penampilan kuda lumping ada Paguyuban Turonggo Manis Budoyo pimpinan Bopo Wahyu Suseno kolaborasi dengan Putro Singo Budoyo pimpinan Bopo Prayitno.

 

"Selain pagelaran budaya panitia juga melibatkan penggiat UMKM untuk mebuka stand dengan aneka produk UMKM di lokasi untuk acara” ujarnya.

 

Sementara itu Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Jawa Riau Drs. H. Kampriwoto dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kepada segenap panitia yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut dengan baik.

 

Lebih lanjut, Kampriwoto mengajak seluruh Keluarga Besar IKJR dimanapun berada untuk sama-sama berdoa untuk keselamatan semua.

 

"Kegiatan mapak malam 1 Suro atau 1 Muharam harus dimaknai sebagai upaya untuk mawas diri agar kita tetap ‘eling dan waspada’ dengan bertakwa kepada Allah SWT. Tahun 1447 H kita tinggalkan dan tahun 1448 H kita masuki. Mari kita intropeksi diri masing-masing apa yang telah kita lalui dan memperbaiki untuk menyongsong tahun depan lebih baik," imbuhnya.

 

Kampriwoto juga mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk berkumpul ‘nyambung roso, nguri-nguri budoyo Jowo’ sebagai bagian dari upaya menjaga budaya luhur agar tidak luntur.

 

"Kesenian Jaranan mungkin bagi Sebagian orang dipandang sebagai kesenian kaum pinggiran, tetapi jika kita memahami filosofi jaranan maka kita bisa mengambil pembelajaran arti gotong royong, arti kebersamaan dan kekompakan sebagai satu bagian yang tidak terpisah-pisahkan. Kami mengucapkan terima kasih pada para penggiat seni yang tetap istiqomah untuk melestarikan budaya adiluhung di Bumi Lancang Kuning," jelas Kampriwoto.

 

Ketua Majelis Kasepuhan DPP IKJR KRT H. Suryadi Khusaini, S.Sos, MM dalam arahannya mengajak seluruh sesepuh, pini sepuh, aji sepuh wabil khusus kepada segenap pengurus IKJR dari tingkat DPP hingga Ranting untuk sama sama menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

 

"Agar menjadi program DPP, DPD, DPC, hingga Ranting IKJR untuk membina kesenian tradisional Jawa dan melestarikan Budaya Jawa. Tetapi kita juga harus memahami Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung. Kita harus memahami dan mengamalkan budaya Melayu tanpa kehilangan ‘Kejawaannya’," ungkapnya.

 

Diharapkan mantan Anggota DPRD Riau ini, jangan sampai tiga generasi di bawah dibawah tidak mengerti budaya Jawa,bahkan malu mengakui sebagai orang Jawa.

 

"Saya yakin saudara-saudara kita merayakan malam 1 Suro sebagai bagian dari perjalanan spiritual kita sebagai orang Jawa. Budaya menyambut malam 1 Suro sudah ada dari zaman Mataram Kuno, Mataram Islam, Kasunanan Solo, Kasultanan Jogja, Mangkunegaran hingga Pakualaman sudah sepatutnya kita lestarikan. Kebersamaan ini bukan sekedar rame-rame, tetapi lebih daripada itu kita ‘nyambung tuwuh, nyambung roso, manunggal jati sebagai orang Jawa," tutupnya.

 

Disisi lain kegiatan yang dilaksanakan, Senin (15/6/2026) menjelang tengah malam kegiatan dilanjutkan dengan bermunajat kehadirat Allah SWT yang dipimpin oleh Mbah Katiran alias Mbah Jagung

 

Dalam munajat itu, sesepuh IKJR ini seraya bermohon semoga tahun 1448 H memberikan kemaslahatan bagi warga Jawa khususnya dan masyarakat Riau pada umumnya.

 

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Jajaran Pendiri dan Deklarator IKJR Zaini, Sesepuh H. Sudirjo, Sugeng Pranoto, Darmo, Nur Hidayat, Sulistiyono, Urip Sutriyanto, Sugiatno, Joko Suyono, Jhon Aripin, Singgih Supriyadi, Joko, Tohaji, Luluk Budi Prayitno dan ribuan penonton yang menyaksikan pagelaran kesenian Jaranan hingga pukul 02.00 WIB.***